Sejarah STIE Satya Dharma

Kelahiran Pendidikan Ratyni Gorda Singaraja (dh. Yayasan Ratyni Gorda Singaraja) pada tanggal 15 Nopember 1995 dengan Akta Notaris Amir Syarifuddin di Denpasar dan perubahannya dengan Akta Notaris I Gusti Ngurah Oka yang biaya pembuatan akta pendirian tersebut merupakan dana-punya (sumbangan) dari kedua orang notaris tersebut. Pertimbangan yang sangat mendasar yang melatar belakangi pendirian Pendidikan Ratyni Gorda Singaraja adalah sebagai berikut :

Seiring dengan dinamika pembangunan yang berjalan begitu cepat sehingga memberi dampak positif terhadap pertumbuhan kesejahteraan masyarakat. Meskipun proses pembangunan tersebut menggelar berbagai kemajuan namun ada sebagian rakyat Indonesia umumnya dan rakyat Provinsi Bali serta Kabupaten Buleleng khususnya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal  ini terlihat dari adanya kesenjangan sosial-ekonomi, ketidakmerataan pembangunan dan fenomena sejenisnya. Di samping itu, pengaruh globalisasi terus meningkat menyeruak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selain itu terjadinya perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian namun sulit diramalkan, persaingan semakin ketat, dan timbulnya kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Keadaan yang demikian itu, menuntut mutu sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan akademik, profesional, kaya akan rasa empati, dan bertanggungjawab serta memiliki integritas moral yang tinggi.

Pada hari Rabu, 27 Oktober 1993 pukul 09.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA), yakni lima menit menjelang memimpin rapat para Kepala SMP dan SMA Nasional Denpasar bertempat di ruang kerjanya, Anak Agung Ayu Ngurah Ratyni terserang stroke. Ia langsung tidak sadarkan diri sampai empat hari tiga malam dirawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir pukul 21.30 WITA hari Sabtu, 30 Oktober 1993 yang diiringi oleh doa secara Hindu oleh suami dan putra-putrinya. Upacara pelebon (ngaben) diselenggarakan hari Senen, 8 Nopember 1993 di Puri Ageng Sukasada Singaraja dan pada malam harinya dilanjutkan upacara pesucian Atman (Mukur) dan upacara nuntun (ngelinggihang Dewa Hyang) di Merajan Kawitan (Pura Keluarga/Famili)

Wafatnya A.A. Ayu Ngurah Ratyni tersebut, bila ditinjau dari sudut pandang etis-manusiawi merupakan peristiwa yang sangat mendadak dan sangat menyedihkan serta kedukaan yang sangat luar biasa dan sangat menggoyahkan semangat hidup Prof. Gorda beserta putra-putrinya. Namun setelah upacara Pitra Yajna selesai dilaksanakan, Prof. Gorda bersama putra-putrinya berupaya sekuat tenaga untuk menerima, memahami, dan menghayati peristiwa kematian tersebut sebagai energi spiritual untuk mendorong tumbuh-kembangnya semangat hidup.

Ada tiga pendekatan yang ditempuh oleh Prof. Gorda beserta putra-putrinya untuk menanggulangi peristiwa tersebut di atas. Pertama, berupaya mendalami dan menghayati nilai-nilai agama Hindu terutama yang menyangkut tentang arti dan makna kematian. Ternyata nilai-nilai Hindu memberi makna kematian tersebut sebagai Akhir Menebus Dosa di Bumi ini. Dengan perkataan lain, kematian merupakan tahap pelaksanaan rencana yang maha besar dari Brahman (Tuhan) untuk mewujudkan menunggalnya Atman dengan Brahman. Ini berarti dari sudut pandang etis-religius, kematian adalah proses kearah pencapaian tujuan tertunggi atau yang paling ideal, yakni moksa.Kedua, mengadakan konsultasi secara intensif dengan Dokter Robert Reverger, Psikiater sebagai upaya untuk merehabilitasi dampat negatif dari peristiwa kematian, baik yang menyangkut kesehatan jiwa (sukma sarira) maupun aspek jasmani (sthula sarura). Sedangkan pendekatan ketiga, adalah mendirikan suatu lembaga sosial yang diberi nama Perkumpulan Ratyni Gorda Singaraja. Nama Ratyni Gorda merupakan penggabungan dua nama, yakni Anak Agung Ayu Ratyni (newata, almarhumah) dengan nama Prof. Gorda sebagai suami newata. Penggabungan kedua nama suami-istri tersebut memiliki makna bagi para pendiri Pendidikan Ratyni Gorda Singaraja. Dari sudut pandang Prof. Gorda sebagai suami newata sebagai simbol atau lambang kesetiaan dan tetap menyatunya secara ruhani antara suami-istri. Sedangkan dari sudut pandang putra-putrinya merupakan simbol kesetiaan dan sekaligus simbol kelanggengan hadirnya orang tua (ayah-ibu) secara utuh di tengah-tengah kehidupan di Bumi ini.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua pertimbangan utama yang melatar belakangi pendirian Pendidikan Ratyni Gorda Singaraja. Pertama, adalah pertimbangan obyektif adanya tuntutan dinamika pembangunan akan mutu sumberdaya manusia. Kedua, pertimbangan subyektif-emosional (sangat pribadi) adalah sebagai upaya menanggulangi rasa sedih dan kedukaan yang sangat mendalam atas wafatnya A.A. Ayu Ngurah Ratyni. Dengan demikian, Pendidikan Ratyni Gorda Singaraja ini memiliki peran sebagai enerji spiritual mendorong bangkitnya semangat hidup Prof. Gorda beserta putra-putrinya di dalam melaksanakan karma-bhakti yoga sebanyak-banyaknya di Bumi ini, yang untuk pertama kalinya mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma Singaraja yang disingkat STIE Satya Dharma Singaraja dan Taman Kanak-Kanak Kumara Satya Dharma Singaraja.

Pengumuman Hasil Test Maru

STIE-learning

Hubungi Kami

Kampus STIE Satya Dharma Singaraja | School of Economic With Spiritual Insight. Jl. Yudistira No. 11 Singaraja - Bali.

0362-22950

 

info[at]stiesatyadharma.ac.id

Berlangganan Info

Nama :
Alamat Email :